Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Gue mau ceritain pengalaman gue waktu nontok Kirab Pusaka di kota tercinta, Ponorogo, beberapa waktu yang lalu.
Hari itu sekolah gue dipulangkan lebih awal sekitar pukul 10.50 WIB, karena udah tradisi tiap tahun kalau ada Kirab Pusaka sekolah-sekolah di Ponorogo dipulangkan lebih awal. Gue dan beberapa temen gue janjian buat nontok kirab di rumah salah satu temen gue yang kebetulan rumahnya dilewati oleh rombongan kirab. Sebut saja nama temen gue itu Bunga (bukan nama sebenarnya, catatan: semua nama disamarkan), kita janjian kumpul di rumah Bunga jam 12.00 WIB, sampai di sana ternyata udah ada Mawar dan Melati semuanya indah. Setelah itu gue sama Melati nonton film di laptopnya si Melati karena kirab baru dimulai sekitar jam 2, si Mawar lagi asik internetan dan Bunga lagi maen PES. Beberapa saat kemudian temen-temen gue yang lain dateng.
Singkat cerita, kirab udah dimulai dengan iring-iringan drum band anak TK & SD,
beberapa saat kemudian drum band SMP & SMA menyusul. Setelah drum band hujan mengguyur Kota Ponorogo dengan sangat elegan, dimulai dengan hujan yang rintik-rintik kemudian gerimis lalu dengan derasnya mengusir kerumunan orang yang siap menontok kirab. Tentu saja, gue dan temen-temen berlindung di bawah naungan rumah Bunga yang cukup besar untuk menampung kami semua. Tak lama kemudian hujan pun reda, para penonton kembali ke tempatnya masing-masing, ada yang kembali menggendong anaknya dikerumunan paling depan, ada juga abang pedagang asongan yang mulai menjajakan kembali dagangannya.
Dan, dari kejauhan rombongan pembawa Pusaka sudah keliatan
![]() |
| Pusaka-nya |
Sebelum lanjutin cerita, gue kasih penjelasan dulu tentang pusaka ini,
Jadi, sebelum dikirab empat buah pusaka yang menjadi simbol pengagem (pegangan) pemerintah Ponorogo dimasa lalu ini, terlebih dahulu dilakukan prosesi pengambilan pusaka dari tempat penyimpanannya, yakni di halaman makam Batoro Katong. Setelah itu dilanjutkan pemberangkatan ke-empat pusaka kejayaan Kabupaten Ponorogo, yaitu Tunggul Nogo, pusaka berbentuk tombak, Songsong Tunggul Wulung pusaka berbentuk payung, Angkin Cinde Puspito pusaka berbentuk sabuk serta Pusaka Kiai Baru menuju kota tengah atau pusat pemerintahan sekarang.
Oke, lanjut cerita.
Yak, setelah pusaka lewat dibelakangnya ada rombongan mobil-mobil hias dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. Salah satunya sekolah gue, nih gue kasih liat fotonya
![]() |
| SMP Negeri 1 Ponorogo |
![]() |
| SMP Negeri 1 Ponorogo |
Setelah sekolah gue ada rombongan Warga Negara Asing yang jadi 'artis' di atas mobil hias, waktu itu temen gue manggil-manggil
"Miss!"
Si bule nggak nengok, dia panggil lagi
"Miss!"
Si bule tetep nggak nengok, akhirnya temen gue minta tolong sama gue buat manggilin, setelah pemanasan dengan keliling GBK 10 kali akhirnya gue panggil tuh bule dengan suara yang sangat merdu
"Miss!"
Dengan disertai senyuman tiga jari, si bule pun menoleh dan langsung berpose begitu melihat kamera, nih hasilnya
![]() |
| Begitu liat temen gue bawa kamera dia langsung pose |
Setelahnya, gue pun tau itu bule kalo nggak dari Jepang ya Korea karena wajahnya yang khas oriental.
Setelah itu ada beberapa kejadian unik yang nggak mungkin gue sebutin semuanya, mulai dari kuda pipis, temen gue cewek yang tomboi ternyata takut sama Reog, dan berbagai macam lainnya.
![]() |
| Kuda-nya Pipis |
Rombongan kirab baru habis sekitar jam 16.30 WIB, dan jalanan Ponorogo yang nggak pernah macet pun berubah menjadi lautan sepeda motor yang sangat banyak, gue nggak sempet hitung jumlah pastinya berapa. Gue dan temen-temen karena nggak mau kena macet memilih untuk menunggu di rumah Bunga sampai jalanan agak sepi, sekitar jam 17.15 WIB jalanan udah mulai sepi, tapi gue ditantang Bunga buat nge-PES, akhirnya gue baru pulang jam 17.30 WIB.
Sekian cerita gue.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.





0 komentar:
Posting Komentar